Tuesday, April 16, 2013

Tambah Waktu Perjalanan

Commuter Line memperbaiki diri, gerbong semakin tidak manusiawi

Rutinitas yang selalu dilakukan adalah pulang ke Kelapa Gading dengan naik kereta. Melihat kondisi penumpang kereta tujuan Bogor/Depok pukul 20.05 sungguh memprihatinkan. Walaupun sudah menjelang malam kondisinya masih sama dengan waktu rush hours, padahal sudah selang 2 jam-an dari waktu pulang kantor. Melihat fenomena yang terus terjadi setiap harinya, menjadi pertanyaan besar kenapa hal tersebut terus terjadi. Jika kita melihat secara kasat mata, ada dua spekulasi yang akan muncul yakni "jumlah penduduk Jakarta semakin banyak" dan "banyak orang yang beralih pada moda transportasi kereta". Kira-kira, manakah yang lebih masuk akal? Silahkan dijawab sendiri.

Terlepas dari dua spekulasi tersebut, yang menjadi sorotan adalah kondisi yang terjadi pada penumpang kereta Jabodetabek. Bagaimana tidak? bayangkan saja setiap jam pulang kantor, kereta bagaikan lautan manusia yang tumpah-ruah. Pintu kereta tidak dapat tertutup dan banyak dari mereka yang naik keatas gerbong demi tiba di rumah dengan lebih cepat. Yang menjadikan hal ini lebih dramatis adalah kondisi ini juga terjadi di kereta kelas Ekonomi AC (commuter line) yang notabene pakai AC dengan harga yang cukup mengocek kantong.

Kita akan sedikit membahas beberapa poin mengenai kondisi kereta api Jabodetabek. Kalau kita lihat dari harga yang di banderol untuk satu kali perjalanan, apakah itu harga yang sesuai dengan apa yang didapatkan oleh para penumpang? Bagaimana dengan kelas ekonomi yang hanya Rp.2.000? apakah dengan harga sekian, penumpang akan mendapatkan layanan yang murah juga, seperti yang dirasakan selama ini(non-AC, pintu terbuka, lampu mati, bau, kotor, dll)?Walaupun kereta adalah moda transportasi massal, bukan berarti penumpang yang naik juga massal sampai tidak muat. perhatikan juga kaidah keselamatan diri masing-masing. Jika anda ingin merasakan moda transportasi yang nyaman, maka buatlah moda transportasi tersebut nyaman.

Ditambahnya jumlah perjalanan commuter line tidak memberikan efek pada kenyamanan yang dirasakan penumpang KAI. Justru sekarang ini semakin banyak gerbong yang dipenuhi oleh lautan orang ketika pulang kantor. Tentu kita bertanya-tanya kenapa KAI yang sudah menambah jadwal perjalanan tidak mampu memberikan ketenangan bagi penumpang untuk dapat bersabar menunggu kereta yang akan datang berikutnya sehingga mencegah terjadinya kelebihan kapasitas penumpang. Salah satu jawabannya adalah karena tidak meratanya infrastruktur yang ada di setiap statisun kereta Jabodetabek. Di beberapa stasiun memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan memadai untuk mendapatkan informasi seputar jadwal perjalanan kereta, tetapi di stasiun-stasiun lainnya belum ada fasilitas tersebut.

Pada akhirnya, bagaiamana wajah Public Transport di Jakarta nantinya? apakah akan lebih baik, stuck atau semakin memprihatinkan? Jangan lupa, sebagai pengguna jasa public transport kita juga mengambil bagian sampai kepada kondisi public transport yang sekarang ini

No comments :

Post a Comment